Selasa, 27 Maret 2018

OBAT WAJIB APOTEK (OWA)

http://www.rubenandrianto.com/2018/03/obat-wajib-apotek-owa-saat-ini.html
OBAT WAJIB APOTEK (OWA)

Saat ini, dimanapun dia berada, konsumen akan berusaha mengatasi sendiri masalah kesehatannya yang sifatnya sederhana dan umum diderita. Masyarakat melakukan pengobatan sendiri karena cara ini dianggap lebih murah dan lebih praktis. Mereka sering merasa kondisi yang dirasakannya belum memerlukan pemeriksaan ke tenaga kesehatan, atau karena memang mereka tidak mempunyai kesempatan atau tidak ada pilihan lain.

Baca Juga :
Rasanya kuliah S1 Farmasi Universitas Pancasila
Kenapa Kasus Difteri dinyatakan Sebagai Kejadian Luar Biasa di Indonesia?
Lulusan Farmasi bakal Jadi Pengangguran?
Hal yang harus diperhatikan saat membeli obat, PENTING !

Pengobatan sendiri adalah suatu perawatan sendiri oleh masyarakat terhadap penyakit yang umum diderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaran atau obat keras yang bisa didapat tanpa resep dokter dan diserahkan oleh apoteker di apotek. Walaupun terdapat beberapa variasi yang mempengaruhi penelitian tersebut, masyarakat di seluruh dunia umumnya merespon masalah kesehatan sehari-hari dengan cara yang sama. Kita juga mengetahui kalau konsumen menjadi lebih aktif dalam masalah kesehatannya, termasuk pengobatan sendiri.

Kondisi seperti ini merupakan tantangan dan kesempatan bagi pemerintah, para tenaga kesehatan dan institusi yang menyediakan produk-produk untuk melakukan pengobatan sendiri. Oleh karena itu, peran apoteker di apotek dalam pelayanan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) serta pelayanan obat kepada masyarakat perlu ditingkatkan dalam rangka peningkatan pengobatan sendiri. Sehingga

Pemerintah mencetuskan peraturan pengadaan tentang Obat Wajib Apotek (OWA). Tujuan utama diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan saat itu adalah untuk swamedikasi (pengobatan sendiri), pasien dapat mengobati dirinya sendiri secara rasional dan ditunjang dengan adanya Obat Wajib Apotek tersebut. Jadi, meskipun secara umum apoteker tidak dapat menjual obat keras tanpa resep dokter, namun ada obat keras tertentu yang berdasarkan Permenkes boleh dijual tanpa resep dokter.
Selain memproduksi obat generik, untuk memenuhi keterjangkauan pelayanan kesehatan khususnya akses obat, pemerintah mengeluarkan kebijakan Obat Wajib Apoteker (OWA). OWA merupakan obat keras yang dapat diberikan oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) tanpa resep dokter kepada pasien. Disini terdapat daftar obat wajib apotek yang dikeluarkan berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan.

Sampai saat ini sudah ada 3 daftar obat yang diperbolehkan diserahkan tanpa resep dokter. Peraturan mengenai Daftar Obat Wajib Apotek tercantum dalam :
1. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek, berisi Daftar Obat Wajib Apotek No. 1
2. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 2
3. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3



Dalam peraturan ini disebutkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan, dirasa perlu ditunjang dengan sarana yang dapat meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional. Peningkatan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional dapat dicapai melalui peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan disertai dengan informasi yang tepat sehingga menjamin penggunaan yang tepat dari obat tersebut. Oleh karena itu, peran apoteker di apotek dalam pelayanan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) serta pelayanan obat kepada masyarakat perlu ditingkatkan dalam rangka peningkatan pengobatan sendiri.

Walaupun APA boleh memberikan obat keras, namun ada persyaratan yang harus dilakukan dalam penyerahan OWA, yaitu :
1. Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien (nama, alamat, umur) serta penyakit yang diderita.
2. Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan kepada pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep saja yang termasuk OWA, dan hanya boleh diberikan 1 tube.
3. Apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar mencakup: indikasi, kontra-indikasi, cara pemakain, cara penyimpanan dan efek samping obat yang mungkin timbul serta tindakan yang disarankan bila efek tidak dikehendaki tersebut timbul.

Sebelum melakukan pengobatan sendiri, sebaiknya seorang konsumen perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Apakah masalah kesehatan yang sedang anda hadapi memerlukan pemeriksaan dokter?
2. Apakah memerlukan obat ?
3. Konsultasikan dengan apoteker tentang obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter untuk mengatasi masalah kesehatan yang anda alami.
4. Aturan pakai : • Bagaimana cara memakainya ? • Berapa jumlahnya ? • Berapa kali sehari ? • Waktu pemakaian, sebelum atau sesudah makan, pagi hari atau menjelang tidur ? • Berapa lama pemakaiannya ?
5. Hal-hal yang perlu diperhatikan : • Pada keadaan bagaimana obat tidak boleh digunakan (kontraindikasi) ? • Makanan, minuman atau obat lain apa yang harus dihindari ?
6. Cara Penyimpanan Obat • Obat harus disimpan dimana ? • Dapatkah sisa obat disimpan untuk digunakan lagi ?

sumber gambar : google.com

Sebelum melakukan pengobatan sendiri, ada beberapa hal yang harus konsumen informasikan dan tanyakan kepada apoteker, yaitu sebagai berikut:
1. Nama, jumlah, dan aturan pakai setiap obat yang sedang dipakai.
2. cara penggunaan obat yang benar.
3. Bila anda pernah mengalami reaksi alergi terhadap suatu obat.
4. Bila anda sedang melakukan diet khusus, misalnya diet rendah gula, diet rendah garam.
5. Bila anda sedang hamil, berencana untuk hamil atau menyusui.

Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masyarakat, maka obat-obat yang digolongkan dalam OWA adalah obat ang diperlukan bagi kebanyakan penyakit yang diderita pasien. Antara lain: obat antiinflamasi (asam mefenamat), obat alergi kulit (salep hidrokotison), infeksi kulit dan mata (salep oksitetrasiklin), antialergi sistemik (CTM), obat KB hormonal.

Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan:
1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit.
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia. 5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri. 

Reference : 
Badan POM. 2004. InfoPOM vol 5 & 6 ISSN 1829-9334. Jakarta : BPOM RI 
MenKes RI. 1990. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek, berisi Daftar Obat Wajib Apotek No. 1. Jakarta : MenKes RI. 
MenKes RI. 1993. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 2. Jakarta : MenKes RI 
MenKes RI. 1999. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3. Jakarta : MenKes RI 

Baca Juga :
Rasanya kuliah S1 Farmasi Universitas Pancasila
Kenapa Kasus Difteri dinyatakan Sebagai Kejadian Luar Biasa di Indonesia?
Lulusan Farmasi bakal Jadi Pengangguran?
Hal yang harus diperhatikan saat membeli obat, PENTING !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar