Selasa, 05 Desember 2017

Perguruan Tinggi ikut berperan dalam Peningkatan Generasi Farmasi Hebat

Peranan perguruan tinggi dalam mempersiapkan generasi hebat farmasi untuk negeri (Indonesia)

Pentingnya peranan apoteker di Masyarakat
Peran apoteker sering tidak hadir di masyarakat, hal tersebut disayangkan mengingat pentingnya peran apoteker dalam memberikan penyuluhan mengenai kefarmasian pada masyarakat dan menurut PP No. 51 tahun 2009 pasal 21 tentang pekerjaan kefarmasian, dijelaskan bahwa yang menyerahkan dan melayani obat berdasarkan resep dokter kepada pasien adalah apoteker sesuai dengan prinsip TATAP (Tanpa Apoteker, Tidak Ada Pelayanan). Namun hal ini menjadi tantangan sendiri bagi sebagai apoteker dan terutama pemilik saham apotek (PSA). Hal inilah, demi peningkatan kesehatan di masyarakat profesi apoteker mengalami perkembangan

Perkembangan Bidang Kefarmasian

Pelayanan kefarmasian saat ini telah semakin berkembang selain berorientasi kepada produk (Product Oriented) juga berorientasi kepada pasien (Patient Oriented) seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan pergeseran budaya sehingga menyebabkan peningkatan konsumsi obat terustama obat bebas, kosmetik, health food , nutraceutical dan obat herbal. Tantangan yang akan dihadapi pada perkembangan dunia kefarmasian seperti Pharmaceutical care yaitu pelayanan untuk memastikan obat sampai ke tangan pasien dalam keadaan baik, efektif dan aman disertai informasi yang jelas sehingga penggunaannya tepat dan mencapai kesembuhan. Semakin maraknya penyalahgunaan obat-obatan juga merupakan tantangan seorang farmasis untuk dapat mengawasi penggunaan obat tersebut dan memberikan edukasi kepada masyarakat. 

Mengutip dari hasil rapat Majelis APTFI (Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia) pada tanggal 1 April 2017, beberapa poin yang telah disepakati oleh Majelis, diantaranya adalah pada poin keempat yaitu APTFI akan membentuk tim dari perguruan tinggi, IAI, KFN dan pemangku kepentingan lain untuk membuat “Grand Design Pendidikan Farmasi Indonesia”.



Peranan perguruan tinggi Farmasi dalam mengatasi permasalahan peran farmasi di masyarakat
Dalam Perguruan Tinggi Farmasi yang mengadakan pendidikan Profesi Apoteker telah diadakannya Uji Kompetensi Apoteker Indonesia atau yang disebut dengan UKAI untuk calon lulusan profesi Apoteker. UKAI diibaratkan Ujian Nasionalnya calon apoteker. Hal ini dilakukan salah satu alasannya untuk mengatasi keberagaman kurikulum tiap universitas yang memiliki profesi Apoteker di Indonesia. Lalu pada tahun ini, istilah OSCE pun hadir sebagai ujian akhir keprofesian faramsi. Lantas apakah itu OSCE?
OSCE atau Objective Structured Clinical Examination sendiri lebih dikenal sebagai suatu metode untuk menguji kompetensi klinik secara objektif dan terstruktur dalam bentuk putaran station dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk menilai kompetensi dan keterampilan klinis para calon apoteker. Secara jelas terlihat adanya perkembangan metode pendidikan secara terus menerus dan profesi ini tidak berdiam diri dan terus berbenah. Harapannya kesehatan masyarakat akan meningkat seiring peranan profesi apoteker yang juga meningkat.



Sumber :

1. Berita APTFI April 2017

2. Sukandar EY. Tren dan paradigma dunia farmasi. Farmasi. FMIPA ITB

3. PP no 51 tentang pekerjaan kefarmasian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar