Senin, 18 Desember 2017

Lulusan Farmasi bakal jadi pengangguran?


Polemik Perguruan Tinggi Farmasi yang terus bertambah, lulusan Farmasi bakal jadi pengangguran?


Pengembangan sistem pendidikan tenaga kesehatan bertujuan untuk membentuk keahlian dan keterampilan tenaga kesehatan di bidang-bidang teknologi yang strategis serta mengantisipasi timbulnya kesenjagan keahlian sebagai akibat kemajuan teknologi. Pengembangan sistem pendidikan tenaga kesehatan tidak terlepas dari sistem pendidikan nasional.
Perkembangan institusi pendidikan tenaga kesehatan cukup tinggi. Jenjang pendidikan yang besar pertumbuhannya adalah jenjang pendidikan D3 dan S1. Berikut ini adalah perkembangan gambaran bidang dan jenjang pendidikan kesehatan tahun 2010.

Tabel 1. Gambaran Bidang dan Jenjang Pendidikan Kesehatan Tahun 2010
Bidang
Jenjang Pendidikan

D3/D4
S1
S2
S3
Profesi
Spesialis
Kedokteran
-
71
22
11
35
212
Kedokteran Gigi
8
25
6
2
12
10
Keperawatan
288
308
3
1
0
1
Kebidanan
748
2
1
0
0
0
Kefarmasian
52
51
8
2
22
0
Kegizian
3
24
1
3
0
0
Kesehatan Masyarakat
0
143
24
2
1
0
Sumber : EPSBED, 2010

Institusi pendidikan tenaga kesehatan yang ada pada tahun itu, masih belum memenuhi standar kualitas pendidikan. Berdasarkan data yang ada 67% institusi pendidikan tenaga kesehatan belum terakreditasi. Berikut ini adalah jumlah institusi pendidikan yang telah terkareditasi tahun 2009.
 



Rencana Pengadaan Pendidikan Tenaga Kesehatan

Melihat dari kondisi jumlah perguruan tinggi farmasi ternyata berada di posisi tengah bila dibandingkan dengan perguruan tinggi tenaga kesehatan lainnya. Lalu dari jumlah perguruan tinggi yang terakreditasi, Jumlah institusi pendidikan apoteker pada tahun 2010 masih sangatlah minim. Pengadaan pendidikan tenaga kesehatan merupakan komponen upaya yang penting dari pengembangan tenaga kesehatan, guna menjamin pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan dan untuk memenuhi kekurangan tenaga kesehatan tertentu diperlukan peningkatan jumlah lulusan tenaga kesehatan melalui peningkatan kapasitas pendidikan pada tahun 2010. Namun peningkatan kapasitas tetap harus memperhatikan kebutuhan masyarakat terhadap tenaga kesehatan tersebut.






Setelah melihat pada data tahun 2010, kita lihat lebih dekat pada tahun 2016. Menurut Azis Saifudin, PhD, Apt (Anggota Majelis, Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI)). International Pharmaceutical Federation merekomendasikan negara berkembang (seperti Indonesia) agar memiliki rasio minimal 1 apoteker untuk 10.000 penduduk. Sedangkan rekomendasi ideal menurut WHO adalah 1:2000. Berpenduduk 250 juta dengan jumlah apoteker mendekati 55.000, Indonesia telah memiliki rasio 1:4528 sehingga rasio minimal telah jauh terlampaui.

Hingga tahun 2016, hanya terdapat 29 perguruan tinggi yang berhak menyelenggarakan pendidikan apoteker. Dari total 127 prodi farmasi (pada tahun 2016), terdapat total 46 program studi farmasi telah berakreditasi A dan B. Dari jumlah ketersediaan prodi farmasi S1 saja ternyata tidak sebanding dengan jumlah perguruan tinggi yang berhak menyelenggarakan pendidikan apoteker. 

Pada tahun tahun berikutnya bila perguruan tinggi prodi S1 Farmasi terus bertambah, maka diduga akan mengalami kejenuhan pada profesi ini. Beberapa lulusan mungkin tidak dapat melanjutkan profesi apoteker (karena keterbatasan program studi apoteker yang ada namun jumlah S1 yang terus bertambah). Namun disisi lain, bila adanya peningkatan program studi apoteker, maka lulusan apotekerpun bertambah tapi kita lihat kembali rasio perbandingan tadi (1:4528 kebutuhan apoteker terhadap masyarakat).

Dengan demikian kebutuhan apoteker di masa depan sudah tidak mendesak dari aspek kuantitas melainkan jaminan kualitas pendidikan farmasi yang akan menjadi tantangan besar (melihat dari prodi yang ada, jumlah akreditasi A dan B pada prodi farmasi hanya 48 dari 127 prodi yang ada).


Permasalahan disini dapat terlihat dimana pemerataan profesi ini masih kurang padahal jumlah sumberdaya ternyata sudah cukup memadai. Lalu permasalahan berikutnya terlihat dimana, peningkatan pengadaan prodi S1 Farmasi baru ternyata menimbulkan permasalahan baru yaitu program studi profesi apoteker yang nantinya menjadi jalan selanjutnya bagi para lulusan S1 farmasi, ternyata tidak cukup secara kuantitas. Berkaca dari hal jumlah akreditasi S1 Farmasi, pemberhentian sementara izin pembukaan prodi S1 farmasi dan fokus pada pemerataan sekaligus peningkatan prodi masing-masing mungkin adalah hal yang tepat.

Sumber
Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan tahun 2011-2025
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1079518662087254&id=105623962810067 (Facebook IAI SULSEL)

baca juga :
Perguruan tinggi ikut berperan dalam peningkatan Generasi Farmasi Hebat

2 komentar: