Selasa, 07 November 2017

(PART 4) JUDGING VS PERCEIVING



JUDGING VS PERCEIVING

Lifestyle

Pengenalan akan diri tidaklah mudah, perlu kerendahan hati dan pikiran yang terbuka agar setiap kita mengenal diri kita secara utuh. Terkadang orang yang merasa mengenali dirinya ternyata belum sepenuhnya mengenali dirinya. Hal ini dikarenakan adanya idealisme masing-masing individu sehingga terkadang kita merasa sudah idealis menurut pandangan kita sendiri namun ternyata masih jauh. Tujuan pengenalan diri merupakan salah satu cara efektif untuk kita dapat mengembangkan diri terutama softskill. Hal yang membuat menarik adalah setelah membaca tulisan ini harapannya kita dapat semakin mengerti siapakah diri kita?

Setelah kita mempelajari, bagaimana kita mendapatkan sumber energi kita (semangat), mengetahui kebiasaan kita menangkap mengolah informasi dan menarik sebuah kesimpulan.

JUDGING VS PERCEIVING merupakan kecenderungan dalam pengaturan gaya hidup kita. Orang judging adalah orang yang terencana dan teratur. Mereka sudah merencanakan sesuatu yang akan dilakukan dari jauh-jauh hari. Orang judging juga suka menyimpan benda-benda secara teratur ditempat semulanya. Orang perceiving adalah orang yang cenderung hidupnya “nge-flow”, bebas dan terbuka dengan berbagai kemungkinan. Tipe orang ini adalah orang-orang dengan gaya hidup spontanitas dan tidak mau sulit dalam melakukan perencanaan. Orang perceiving juga biasanya cenderung lebih berantakan dalam meletakkan barang-barang dibandingkan dengan orang judging. 

Contoh kasus dalam perencanaan seperti ini, orang judging bila diminta menyelesaikan pekerjaan dengan bobot 100  dalam sepuluh jam. Mereka akan mengatur menjadi 10 bobot/jam untuk dikerjakan. Sedangkan orang perceiving dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan dengan sesuka hati. Maka tipe orang perceiving terkadang akan mengalami santai-santai kemudian terburu-buru di jam-jam akhir (sistem kebut semalam) karena tidak memiliki timeline dalam pengerjaan tugas-tugasnya.

Namun, bila kita membandingkan orang judging dengan orang perceiving. Orang perceiving lebih spontanitas, misal bila diberikan project dadakan mereka cenderung lebih siap dan tidak panik. Sedangkan pada orang-orang judging akan cenderung kewalahan dengan project-project yang bersifat dadakan karena biasanya sudah terjadwal dan terarah dalam mengerjakan project-project. 

Setiap kecenderungan sifat antara keduanya memiliki beberapa kelebihan dan tentunya beberapa kekurangan. Kedua kecenderungan ini kita miliki namun kita ditentukan dari salah satu sifat yang lebih dominan (condong kemana). Jadi bisa saja ada orang yang saat didalam situasi ini menjadi lebih terjadwal dan dalam situasi tertentu menjadi lebih spontan.






Orang judging pada umumnya melihat orang perceiving itu semaunya sendiri, berantakan, tidak bertanggung jawab, menggampangkan, susah diatur, tidak bisa diandalkan, suka php (karena kadang membatalkan atau lupa dengan janji/tidak terjadwal).
Orang perceiving pada umumnya melihat orang judging itu kaku, paranoid, banyak aturan, aneh, kolot, terlalu mengontrol, terlalu ribet, terlalu terjadwal.

Pandangan-pandangan seperti inilah yang kadang membuat kita menjadi konflik karena perbedaan cara gaya hidup. Namun kembali lagi, setiap kita dapat menjadi manfaat bagi orang lain yang memiliki sifat dominan kecenderungan yang berbeda dengan kita asalkan kita memiliki kedewasaan.






Orang judging bisa memberikan manfaat bagi orang perceiving :
1. Membantu mengingatkan fokus dan prioritas
2. Merencanakan sesuatu lebih teroganisir
3. Mengatur sesuatu secara step by step agar lebih mudah dikerjakan
4. Membantu menjaga prinsip dan peraturan

Orang perceiving bisa memberikan manfaat bagi orang judging :
1. Memberikan berbagai alternatif  dan variasi secara spontan
2. Membantu beradaptasi dengan perubahan
3. Menghadapi situasi-situasi yang mendadak dan urgent
4. Membantu untuk lebih fleksibel sesuai keadaan

Dengan mengetahui masing-masing manfaat mutualisme masing-masing kecenderungan, itu akan mempermudah kita dalam bekerjasama. Kita semakin menyadari bahwa keunikan kita masing-masing dan memiliki manfaat bagi orang lain. Bukan berarti salah satu kecenderungan itu lebih baik. Semua menjadi baik bila setiap sifat dan kecenderungan kita memiliki tingkat kedewasaan. 

Saya sharing sedikit tentang apa yang saya nikmati dari buku, So buat teman-teman yang mau belajar lebih lengkap bisa langsung baca buku referensinya ya. Semoga bermanfaat, budayakan comment dan share .
Sumber : Mastering People Skill with MBTI  Edited & Composed by Josua Iwan Wahyudi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar