Sabtu, 16 September 2017

Kemampuan menarik kesimpulan (PART 3)

Kemampuan Menarik Kesimpulan

THINKING VS FEELING #Sabtuberkarakter #Septemberkarakter
Pengenalan akan diri tidaklah mudah, perlu kerendahan hati dan pikiran yang terbuka agar setiap kita mengenal diri kita secara utuh. Terkadang orang yang merasa mengenali dirinya ternyata belum sepenuhnya mengenali dirinya. Hal ini dikarenakan adanya idealisme masing-masing individu sehingga terkadang kita merasa sudah idealis menurut pandangan kita sendiri namun ternyata masih jauh. Tujuan pengenalan diri merupakan salah satu cara efektif untuk kita dapat mengembangkan diri terutama softskill. Hal yang membuat menarik adalah setelah membaca tulisan ini harapannya kita dapat semakin mengerti siapakah diri kita?

Buat yang belum baca tentang INTUITION VS SENSING (Part 2) bisa dibaca langsung di bagaimana cara kita menangkap informasi ? Mari dibaca dan pahami dahulu karena akan berhubungan dengan topik ini. Hari ini kita akan belajar mengenai THINKING VS FEELING. Setelah kita mengetahui keunikan dari cara orang menangkap dan mengolah informasi, tentu tidak hanya sampai disitu, setiap kita pada umumnya setelah menangkap sebuah informasi akan menarik sebuah kesimpulan.

Thinking, pengambilan keputusan berdasarkan logika dan pemikiran
Feeling, pengambilan keputusan berdasarkan perasaan dan penilaian personal

Biasanya penilaian yang berdasar perasaan akan mempengaruhi hasil kesimpulan yang dibuat. (biasanya menjadi lebih subjektif). Namun, pada artikel ini kita akan sama-sama melihat kekurangan dan keunggulan masing-masing sifat. Mengingat kembali, bahwa setiap kita memiliki dua kecenderungan ini antara THINKING dan juga FEELING namun setiap kita memiliki keunikan yang didasari dari sifat dominan antara kedua sifat tersebut. 

Orang thinking akan mengambil keputusan secara obyektif dan menggunakan logika mereka. Orang thinking tidak akan melibatkan diri secara emosional dengan keputusan-keputusan yang mereka ambil. Namun orang thinking tidak jarang dicap sebagai orang-orang yang berhati dingin dan tidak berperasaan.

Lain hal dengan orang feeling, mereka cenderung mengambil keputusan dengan melibatkan perasaannya. Secara emosional, orang feeling sering memposisikan diri sebagai orang lain saat mereka dalam mengambil keputusan. Hal ini akhirnya membuat orang-orang feeling lebih dapat memahami perasaan lawannya. Namun kecenderungan ini bisa membuat mereka menjadi sedikit bahkan dapat kearah subjektif (melihat dari satu sisi atau membela satu pihak) dan seringkali menjadi kurang tegas atau pilih kasih.

Sederhananya orang thinking tidak memposisikan dirinya sebagai orang lain saat mengambil keputusan, mereka mengambil keputusan dengan logika dan menimbang perkara secara objektif, sedangkan pada orang feeling mereka sering memposisikan dirinya sebagai orang lain sehingga mereka lebih memahami dan mengerti perasaan orang lain tersebut namun terkadang ini membuat orang feeling menjadi  sulit mengambil keputusan atau cenderung subjektif.






Orang feeling pada umumnya melihat orang thinking itu tidak berperasaan, dingin, sombong, terlalu serius, melelahkan dan keras kepala.
Orang thinking pada umumnya melihat orang feeling itu sensitif, plin-plan, subyektif, tidak tegas, tidak konsisten dan mudah kompromi.

Hal-hal tersebut yang seringkali membuat timbulnya konflik karena kita tidak memahami apa yang dipikirkan oleh lawan bicara kita. Mereka yang thinking ataupun yang feeling tentu memiliki manfaat yang bisa saling tolong menolong seperti halnya yaitu:






Orang feeling bisa memberikan manfaat bagi orang thinking
1. Memberikan dugaan orang lain akan merasa dan bertindak seperti apa
2. Membuat pengecualian untuk individu tertentu
3. Mengorganisasi orang dan tugas secara harmonis (agar tidak terlalu kaku dalam suatu kelompok)
4. Mengkomunikasikan keputusan orang thinking agar lebih bisa diterima (karena keputusan terkadang cenderung tajam dan tidak berperasaan)

Orang thinking bisa memberikan manfaat bagi orang feeling
1. Menganalisa konsekuensi
2. Menjalankan kebijakan dengan teguh
3. Membantu dalam membuat sistem yang rasional dan objektif
4. Menjaga sportivitas

Dengan mengetahui masing-masing manfaat mutualisme masing-masing kecenderungan, itu akan mempermudah kita dalam bekerjasama. Kita yang semakin menyadari bahwa kita masing-masing memiliki keunikan dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Lalu bukan berarti salah satu kecenderungan itu lebih baik. Semua menjadi baik bila setiap sifat dan kecenderungan kita memiliki tingkat kedewasaan. 

Tunggu part selanjutnya setiap sabtu di bulan September #Sabtuberkarakter #Septemberkarakter. Saya sharing sedikit tentang apa yang saya nikmati dari buku, So buat teman-teman yang mau belajar lebih lengkap bisa langsung baca buku referensinya ya. Semoga bermanfaat, budayakan comment dan share

Sumber : Mastering People Skill with MBTI  Edited & Composed by Josua Iwan Wahyudi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar