Sabtu, 22 Juli 2017

Kenapa FARMASI?




Kenapa FARMASI ? kenapa bukan bidang lain? Hal ini mungkin dipertanyakan oleh teman2 yang mau kuliah atau orang-orang yang hanya tahu kulit luarnya seorang farmasi. Perubahan pekerjaan farmasi yang semula hanya terlibat dalam penyaluran obat-obatan sekarang menjadi fokus yang lebih mantap yaitu kepedulian terhadap pasien. Hal ini dilatarbelakangi tidak sedikitnya masyarakat yang kurang merasakan peran farmasi di masyarakat. Sehingga kamipun selalu meningkatkan kualitas peranan kami dalam membantu masyarakat. Peranan apoteker kini berubah dari peracik obat dan supplier sediaan farmasi, kearah pemberi pelayanan dan informasi lalu kini berubah lagi menjadi pemberi kepedulian kepada pasien. Hal ini biasa disebut dengan Pharmaceutical care, apoteker kini bukan hanya memberikan pelayanan dan informasi namun menjadi seorang yang peduli terhadap pasiennya.
       Bagaimana cara kita menerapkan pharmaceutical care ? nyata-nyatanya masih ada teman-teman yang lupa atau bahkan tidak peduli dengan tujuan seorang  farmasi itu sendiri. Sehingga masih adanya beberapa penyimpangan dan ketidakpedulian yang dilakukan. Namun pastinya masih selalu ada pr tersendiri untuk setiap profesi manapun. Inilah pr kami, bagaimana caranya meningkatkan kesadaran sesama profesi dan satu tujuan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Pharmaceutical care).  Tentu saja saya disini bukan hanya memaparkan keunggulan tapi tentu kita harus membuka mata masih banyak hal yang perlu kita benahi.
       7 Stars Of Pharmacist adalah istilah yang diungkapkan World Health Organization (WHO), seiringnya waktu sekarang bertambah menjadi 9 Stars Of Pharmacist. Saya akan memaparkan singkat dengan cara yang berbeda dari yang lainnya, antara lain yaitu :

1. Care Giver
Bagaimana kamu mau menolong seseorang bila kamu tidak peduli? Atau saya balik, bagaimana kamu bisa dikatakan peduli bila kamu tidak menolong seseorang? Cara terbaik untuk kita menolong Pharmaceutical Care  adalah meningkatkan kepedulian kita kepada mereka, pasien kita.

2. Decision Maker
Seorang farmasi juga dituntut untuk dapat mengambil keputusan secara cepat dan tepat, misalkan keputusan dispensing, penyesuaian dosis, pemilihan alternatif obat, komposisi suatu obat dan sebagainya. Keragu-raguan dapat merugikan kita sendiri atau bahkan orang lain, salah satu cara meningkatkan kemampuan ini adalah “confidence” yang disertai dengan ilmu yang terus bertambah.

3. Communicator
Menjadi pembuat keputusan yang baik, menjadi orang yang peduli tidaklah cukup. Komunikasi merupakan kunci yang dapat mempengaruhi apakah pasien tersebut mengerti ataukah tidak saat kita menjelaskan. Penyesuaian kalimat juga penting seperti halnya kita tidak mungkin menjelaskan ke pasien  menggunakan istilah-istilah ilmiah karena tidak semua dapat mengerti. Kuncinya adalah kesederhanaan dalam komunikasi yang dapat meningkatkan wawasan dan kepatuhan pasien.

4. Manager
Kemampuan manajemen yang baik diterapkan dalam mengelola baik karyawan, tim dan juga bahan obat.

5. Leader
Seorang Leader memilliki visi dan misi yang jelas dan dapat mengambil kebijakan yang tepat untuk memajukan lembaga yang dipimpinnya.

6. Life long learner
Belajar terus tiada henti. penyakit saja terus berkembang, bertambah dan semakin rumit. Jangan mau dikalahkan oleh mereka. Kita juga harus bisa bersaing dalam inovasi obat untuk mengalahkan penyakit.

7. Teacher
Memiliki ilmu tidaklah cukup, kita perlu memberikan ilmu itu kepada sesame. Seringkali menjadi pendidik/edukator bagi pasien, masyarakat maupun tenaga kesehatan lainnya terkait ilmu kefarmasian.

8. Researcher
Merupakan seorang peneliti terutama yang dapat menemukan dan mengembangkan obat-obatan menjadi lebih baik.

9. Entrepreneur
Seorang farmasi diharapkan menjadi wirausaha dalam mengembangkan kemandirian serta membantu mensejahterakan masyarakat.

Dengan selalu meningkatkan kesembilan karakter ini, diharapkan kita menjadi seorang farmasi yang lebih baik. Sehingga pandangan idealis kita mengenai pharmaceutical care dapat seutuhnya diterapkan. Ini bukanlah kerja sendiri melainkan kerjasama kita semua. Untuk teman-teman yang non-farmasi kini menjadi lebih memahami apa itu farmasi, kita bukan hanyalah “Tukang Obat” yang menjual obat lalu selesai dan bukan hanyalah yang ngeracik-racik obat yang selalu bekerja dibelakang. Kita lebih dari itu bila kita menerapkan pharmaceutical care.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar