Minggu, 06 Mei 2018


Sharing tentang pengalaman Try Out OSCE Nasional mahasiswa apoteker tanggal 5 mei 2018 kemarin, mau tahu? yuk!
Apa itu OSCE ?
OSCE atau kepanjangannya Objective Structured Clinical Examination. Walau di profesi apoteker sepertinya OSCE sudah umum dilakukan sebagai uji perpanjangan sertifikasi izin praktik apoteker. Namun kehadiran OSCE pada jenjang Pendidikan Program studi Profesi Apoteker merupakan hal yang baru bagi kami (para mahasiswa). OSCE pada pendidikan profesi apoteker akan menjadi salah satu syarat kelulusan (exit exam) yang dimana hal ini masih dirancang dan belum tahu kapan pastinya.

Maka dari itu panitia Ujian UKAI-OSCE tahun ini mengadakan Try Out OSCE secara nasional untuk mahasiswa apoteker yang merupakan salah satu bentuk persiapan dari pernyataan sebelumnya. Berdasarkan kompetensi fokus keterampilan yang diujikan adalah kemampuan apoteker dalam menyelesaikan masalah-masalah praktik kefarmasian. Kompetensi spesifik tersebut mencakup 7 Aspek yaitu:
1. Pengumpulan data dan informasi
2. Penetapan masalah
3. Penyelesaian masalah
4. Monitoring dan evaluasi
5. Pencatatan dan pelaporan
6. Komunikasi efektif
7. Sikap dan perilaku professional

Berdasarkan praktik kefarmasian keterampilan yang diujikan terbagi dalam 3 area yaitu :
1. Pembuatan sediaan farmasi, mencakup : (a) Perancangan, (b) Produksi, (c)  QC/QA
2. Distribusi sediaan farmasi, mencakup: (a) Perencanaan, pengadaan, penerimaan, (b) Penyimpanan, penyaluran dan pemusnahan
3. Pelayanan sediaan farmasi, mencakup: (a) Pelayanan obat tanpa resep (swamedikasi), (b) Skrining resep, analisis DRP/DTP, (c) compounding sediaan farmasi (nonsteril/steril), (d) Dispensing (KIE), Pemantauan terapi/Monitoring efek samping obat.

Terdapat 10 stasion yaitu terdiri dari 3 (tiga) stasion pembuatan, 2 (dua) stasion distribusi,  4 (empat) stasion pelayanan dan 1 (satu) stasion istirahat. Waktu yang diberikan 10 menit (1 menit waktu untuk baca soal didepan stasion, lalu masuk selama 9 menit)

Bagaimana rasanya TRY OUT OSCE nasional ?

Bersiap untuk jantung yang berdebar-debar jika kamu pertama kali ujian tipe seperti ini haha. Pertama-tama akan ada briefing mengenai peraturan-peraturan sebelum hari H. Pada hari H, sebelum memasuki ruangan ujian, kita akan diarahkan ke ruangan karantina (tempat menunggu kita). Di ruang karantina setiap atribut yang tidak diperlukan selama ujian akan ditinggal disana dan sebelum mulai ujian akan ada briefing lagi. Setelah briefing, bersiap-siap menunggu panggilan oleh panitia untuk berbaris sesuai urutan memasuki ruangan ujian. Didalam ruangan ujian terdapat 10 stasion (1 stasion istirahat).  Masing-masing peserta (10 peserta,  1 peserta satu stasion) akan diarahkan di depan stasion masing-masing (disekat-sekat gitu deh ruangannya).

Didepan stasion, kita menunggu aba-aba dari panitia nasional untuk memulai secara serentak ujian tersebut (well disini deg-degan banget!). Kalian pernah main game pos? ya kurang lebih kayak begitu posisi ujiannya cuman kali ini bukan games. saya dapat nomor urut 8 yang artinya saya mulai dari stasion nomor 8.

Ujian dimulai..

Stasion 8 (pelayanan sediaan farmasi)
1 menit pertama kita baca dulu soal ditempel didepan ruangan sekat. Berhubung kita tidak tahu urutan kompetensi mana dahulu yang diujikan, jadi saat waktu baca soal itu cukup menegangkan (intinya disini jangan panik, baca soal baik-baik karena didalam hanya lakukan sesuai instruksi didalam soal itu, jangan lakukan berlebih karena waktu terbatas).

9 menit berikutnya, didalam ruangan ketemu penguji dan meja. Diatas meja ada soal lagi sama seperti yang di luar ruangan. Ruangan yang saya masukin adalah stasion pelayanan tipe b, skrining resep dan analisis DRP. Jadi ada antibiotik yang digabung sama  obat lainnya dalam satu resep racikan. Kita harus analisis resep tersebut, bila ada kejanggalan baik itu sediaannya atau dosis kita jelaskan ke penguji (disini berperan sebagai dokter). Jadi kesimpulan (versi saya) di stasion ini salah satu kompetensi apoteker yang diujikan yaitu menganalisa resep dan kemampuan berdiskusi dengan dokter terkait hal pengobatan pasien. Setelah selesai menjelaskan, tunggu waktu habis lalu keluar untuk berganti stasion. 

Setiap berpindah stasion diberikan waktu 1 menit, lalu saya menunggu di Stasion 9. Dan baca soal di 1 menit pertama, lalu masuk ke stasion 9.

Stasion 9 (pembuatan sediaan farmasi)
Didalam stasion 9, ada meja. Diatas meja terdapat alat-alat analisis lab (labu ukur, pipet dsbnya), disoal minta melakukan pengeceran yang diinfokan hanya “serapan” awal dan “serapan target” yang ingin dicapai setelah kita melakukan pengenceran. Di stasion ini, pake jas lab dan peralatan lab lengkap pun dinilai, setelah melakukan pengenceran, bersihkan meja praktekpun dinilai. Jadi kebayangkan ngelab didepan penguji deg-degannya kayak gimana.

Lanjut ke stasion berikutnya, yang diawali baca soal di 1 menit pertama.

Stasion 10 (pelayanan sediaan farmasi)
Didalam stasion 10, ada meja. Diatas meja terdapat lumpang dan peralatan farmasetika dasar. Terdapat resep yang harus kita racik. Soal kemarin itu, asam salisilat yang akan dicampur dengan salep. Kita diminta tentukan permasalahannya apa dan bagaimana penanganannya, setelah itu kita racik. Kira-kira gimana ya, ada yang tau?

Sama seperti stasion sebelumnya, kerapihan praktek pun dinilai dan juga cara kita meracik. Jadi distasion ini sepertinya dinilai juga pengetahuan farmasetika dasar seperti cara meracik obat dan  pemahaman permasalahan sifat obat seperti kelarutan dari setiap bahan obat.
( fyi buat teman-teman non farmasi atau yang belum tahu, tiap obat gabisa main asal campur terus ulek macem bikin bumbu dapur. Beberapa bahan obat harus dicek sifatnya agar dapat bercampur menjadi obat yang baik dan berkhasiat) 

Stasion 1 (pelayanan sediaan farmasi)
Didalam stasion 1, swamedikasi (atau nama lainnya pengobatan diri sendiri). Pengetahuan mengenai obat-obatan secara umum di uji disini. Di dalam terdapat 1 orang pasien dan 1 orang penguji. Pasien disini ceritanya akan bertanya kekita terkait sakit yang dialami. Kita dapat menyarankan penggunaan obat namun hanya obat-obatan tanpa resep dokter/ obat-obatan OWA (obat wajib apotek). Seperti obat bebas dan obat bebas terbatas.

KLIK DISINI UNTUK  yang belum tahu OWA (obat wajib apotek) itu apa?

Pasien mengalami gatal-gatal, dan kita harus menggali informasi pasien dan memberikan solusi terkait kemungkinan pengobatan terbaik yang dapat pasien dapati dengan beberapa metode swamedikasi.
Sepertinya di stasion ini, cara kita berkomunikasi dengan pasien, cara kita memecahkan permasalahan pasien, dan pengetahuan mengenai obat-obatan dinilai oleh penguji.

Stasion 2 (pembuatan sediaan farmasi)
Didalam stasion 2, terdapat uji PH, kita diminta melakukan evaluasi suatu sediaan yaitu uji pH. pH setiap sediaan dilihat terlebih dahulu target/persyaratannya di farmakope Indonesia atau literature pendukung lainnya. Sehingga kita tahu sediaan tersebut memiliki target pH berapa.

Stasion 3 (Distribusi sediaan farmasi)
Didalam stasion 3, kita diminta untuk melakukan pemesanan narkotika dan obat biasa. Seperti yang diatur oleh permenkes 3 tahun 2015 tentang peredaran, penyimpanan, pemusnahan, dan pelaporan narkotika, psikotropika dan prekursor farmasi. Pemesanan narkotika, psikotropika dan prekursor merupakan salah satu kompetensi profesi apoteker.

Stasion 4 (pelayanan sediaan farmasi)
Didalam stasion 4, terdapat 1 orang penguji dan 1 orang pasien. Didalam kita melakukan komunikasi, informasi dan edukasi mengenai obat yang akan diberikan kepada pasien. Pasien mendapatkan resep obat tetes mata dan kita sebagai apoteker menggali informasi pasien terkait gejala sampai kita menjelaskan bagaimana cara pakai obat, bagaimana cara menyimpan obat  dan informasi lainnya yang dibutuhkan oleh pasien. Sebagai tangan terakhir yang menyerahkan obat ke pasien (dispensing), seorang apoteker memastikan pasien paham betul cara penggunaan obat agar pengobatan pasien menjadi lebih efektif. Walau obat itu kualitasnya yang terbaik tapi ternyata pasiennya yang salah cara pakai atau waktu pakai obatnya yang salah atau cara simpan obatnya salah. Hal itu mungkin tidak memberikan kesembuhan kepada pasien melainkan memberikan efek yang tidak diinginkan oleh pasien (seperti efek samping).

Stasion 5 (istirahat)
Waktunya rileks..

Stasion 6 (Pembuatan sediaan farmasi)
Didalam stasion 6, kita diminta melakukan evaluasi sediaan farmasi yaitu uji kekerasan tablet. Pemastian kualitas obat yang diproduksi juga merupakan kompetensi apoteker. Sehingga setiap obat yang beredar ke masyarakat itu memiliki kualitas yang terbaik.

Stasion 7 (Distribusi sediaan farmasi)
Didalam stasion 7, kita diminta untuk menentukan tempat penyimpanan berbagai obat dan memberikan training ke staff terkait penyimpanan ini. Setelah itu melakukan pengisian update kartu stock terkait kedatangan barang/obat di apotek kita. 

Setelah semua stasion selesai, rasanya lega sekali haha.

Kompetensi apoteker yang diuji mulai dari Pembuatan sediaan farmasi, Distribusi sediaan farmasi dan Pelayanan sediaan farmasi.

Seorang Apoteker bukan sekedar “tukang obat” atau “tukang jual obat”. Obat yang masyarakat gunakan mulai dari pemilihan kualitas bahan baku sampai produk jadi , dari produksi sampai distribusi industri ke retail (apotek/toko obat) semua itu pasti ada peranan dari seorang apoteker,
Kita yang berperan membuat obat sudah seharusnya kita juga paham tentang obat yang masyarakat gunakan. Tanya Obat Tanya Apoteker. itulah profesi kita; Apoteker.

Materi OSCE dapat kalian download klik disini

Reference:
Blueprint Uji Kompetensi Apoteker Indonesia- Metode OSCE. 2017
Permenkes nomor 3 tahun 2015 tentang peredaran, penyimpanan, pemusnahan, dan pelaporan narkotika, psikotropika dan prekursor farmasi. 2015
www.osce.ikatanapotekerindonesia.net

Selasa, 27 Maret 2018

http://www.rubenandrianto.com/2018/03/obat-wajib-apotek-owa-saat-ini.html
OBAT WAJIB APOTEK (OWA)

Saat ini, dimanapun dia berada, konsumen akan berusaha mengatasi sendiri masalah kesehatannya yang sifatnya sederhana dan umum diderita. Masyarakat melakukan pengobatan sendiri karena cara ini dianggap lebih murah dan lebih praktis. Mereka sering merasa kondisi yang dirasakannya belum memerlukan pemeriksaan ke tenaga kesehatan, atau karena memang mereka tidak mempunyai kesempatan atau tidak ada pilihan lain.

Baca Juga :
Rasanya kuliah S1 Farmasi Universitas Pancasila
Kenapa Kasus Difteri dinyatakan Sebagai Kejadian Luar Biasa di Indonesia?
Lulusan Farmasi bakal Jadi Pengangguran?
Hal yang harus diperhatikan saat membeli obat, PENTING !

Pengobatan sendiri adalah suatu perawatan sendiri oleh masyarakat terhadap penyakit yang umum diderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaran atau obat keras yang bisa didapat tanpa resep dokter dan diserahkan oleh apoteker di apotek. Walaupun terdapat beberapa variasi yang mempengaruhi penelitian tersebut, masyarakat di seluruh dunia umumnya merespon masalah kesehatan sehari-hari dengan cara yang sama. Kita juga mengetahui kalau konsumen menjadi lebih aktif dalam masalah kesehatannya, termasuk pengobatan sendiri.

Kondisi seperti ini merupakan tantangan dan kesempatan bagi pemerintah, para tenaga kesehatan dan institusi yang menyediakan produk-produk untuk melakukan pengobatan sendiri. Oleh karena itu, peran apoteker di apotek dalam pelayanan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) serta pelayanan obat kepada masyarakat perlu ditingkatkan dalam rangka peningkatan pengobatan sendiri. Sehingga

Pemerintah mencetuskan peraturan pengadaan tentang Obat Wajib Apotek (OWA). Tujuan utama diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan saat itu adalah untuk swamedikasi (pengobatan sendiri), pasien dapat mengobati dirinya sendiri secara rasional dan ditunjang dengan adanya Obat Wajib Apotek tersebut. Jadi, meskipun secara umum apoteker tidak dapat menjual obat keras tanpa resep dokter, namun ada obat keras tertentu yang berdasarkan Permenkes boleh dijual tanpa resep dokter.
Selain memproduksi obat generik, untuk memenuhi keterjangkauan pelayanan kesehatan khususnya akses obat, pemerintah mengeluarkan kebijakan Obat Wajib Apoteker (OWA). OWA merupakan obat keras yang dapat diberikan oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) tanpa resep dokter kepada pasien. Disini terdapat daftar obat wajib apotek yang dikeluarkan berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan.

Sampai saat ini sudah ada 3 daftar obat yang diperbolehkan diserahkan tanpa resep dokter. Peraturan mengenai Daftar Obat Wajib Apotek tercantum dalam :
1. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek, berisi Daftar Obat Wajib Apotek No. 1
2. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 2
3. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3



Dalam peraturan ini disebutkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan, dirasa perlu ditunjang dengan sarana yang dapat meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional. Peningkatan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional dapat dicapai melalui peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan disertai dengan informasi yang tepat sehingga menjamin penggunaan yang tepat dari obat tersebut. Oleh karena itu, peran apoteker di apotek dalam pelayanan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) serta pelayanan obat kepada masyarakat perlu ditingkatkan dalam rangka peningkatan pengobatan sendiri.

Walaupun APA boleh memberikan obat keras, namun ada persyaratan yang harus dilakukan dalam penyerahan OWA, yaitu :
1. Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien (nama, alamat, umur) serta penyakit yang diderita.
2. Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan kepada pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep saja yang termasuk OWA, dan hanya boleh diberikan 1 tube.
3. Apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar mencakup: indikasi, kontra-indikasi, cara pemakain, cara penyimpanan dan efek samping obat yang mungkin timbul serta tindakan yang disarankan bila efek tidak dikehendaki tersebut timbul.

Sebelum melakukan pengobatan sendiri, sebaiknya seorang konsumen perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Apakah masalah kesehatan yang sedang anda hadapi memerlukan pemeriksaan dokter?
2. Apakah memerlukan obat ?
3. Konsultasikan dengan apoteker tentang obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter untuk mengatasi masalah kesehatan yang anda alami.
4. Aturan pakai : • Bagaimana cara memakainya ? • Berapa jumlahnya ? • Berapa kali sehari ? • Waktu pemakaian, sebelum atau sesudah makan, pagi hari atau menjelang tidur ? • Berapa lama pemakaiannya ?
5. Hal-hal yang perlu diperhatikan : • Pada keadaan bagaimana obat tidak boleh digunakan (kontraindikasi) ? • Makanan, minuman atau obat lain apa yang harus dihindari ?
6. Cara Penyimpanan Obat • Obat harus disimpan dimana ? • Dapatkah sisa obat disimpan untuk digunakan lagi ?

sumber gambar : google.com

Sebelum melakukan pengobatan sendiri, ada beberapa hal yang harus konsumen informasikan dan tanyakan kepada apoteker, yaitu sebagai berikut:
1. Nama, jumlah, dan aturan pakai setiap obat yang sedang dipakai.
2. cara penggunaan obat yang benar.
3. Bila anda pernah mengalami reaksi alergi terhadap suatu obat.
4. Bila anda sedang melakukan diet khusus, misalnya diet rendah gula, diet rendah garam.
5. Bila anda sedang hamil, berencana untuk hamil atau menyusui.

Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masyarakat, maka obat-obat yang digolongkan dalam OWA adalah obat ang diperlukan bagi kebanyakan penyakit yang diderita pasien. Antara lain: obat antiinflamasi (asam mefenamat), obat alergi kulit (salep hidrokotison), infeksi kulit dan mata (salep oksitetrasiklin), antialergi sistemik (CTM), obat KB hormonal.

Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan:
1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit.
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia. 5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri. 

Reference : 
Badan POM. 2004. InfoPOM vol 5 & 6 ISSN 1829-9334. Jakarta : BPOM RI 
MenKes RI. 1990. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek, berisi Daftar Obat Wajib Apotek No. 1. Jakarta : MenKes RI. 
MenKes RI. 1993. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 2. Jakarta : MenKes RI 
MenKes RI. 1999. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3. Jakarta : MenKes RI 

Baca Juga :
Rasanya kuliah S1 Farmasi Universitas Pancasila
Kenapa Kasus Difteri dinyatakan Sebagai Kejadian Luar Biasa di Indonesia?
Lulusan Farmasi bakal Jadi Pengangguran?
Hal yang harus diperhatikan saat membeli obat, PENTING !

Rabu, 14 Maret 2018


Hal yang harus diperhatikan saat membeli obat, PENTING !.

Dalam membeli obat kita harus memperhatikan hal ini terutama untuk pembelian obat secara mandiri (tanpa resep dokter). Obat dapat diperoleh dengan mudah mulai dari warung, toko online sampai apotek. Masyarakat bisa mendapatkan obat dari dokter (diberikan informasi) atau bahkan bisa membelinya sendiri tanpa resep dokter. Lalu bagaimana masyarakat bisa mendapatkan obat dan menggunakan obat dengan benar ? Bila kita beli obat dari resep dokter, tentulah informasi akan diberikan, namun bagaimana bila kita beli di warung atau toko obat yang terkadang informasi mengenai obat itu sangatlah sedikit? Seringkali obat dijual beli tanpa memperhatikan informasi dalam kemasan obat itu sendiri. Maka dari itu, tidak heran masyarakat sering sembarangan membeli dan memakai obat. 



Apakah kamu tahu akibat dari sembarang membeli dan memakai obat? Sembarang mengkonsumsi obat (tidak sesuai anjuran) memiliki dampak buruk yaitu efek samping yang terjadi. Setiap obat memiliki ketentuan cara pakainya (hal ini bisa dibaca langsung di informasi kemasan) namun ternyata sebagai masyarakat dalam mengkonsumsi obat kita perlu tahu lebih dari sekedar “cara pakai” obat tersebut. Mulai dari interaksi obat (bila kalian minum obat lebih dari satu) dan jarak waktu minum obatnya, semua itu ada aturannya. Jadi obat itu bisa berdampak buruk kalau masyarakat juga asal dalam meminumnya. Kita ambil salah satu contoh penggunaan obat yang salah seperti kasus dibawah ini 


Sumber gambar  : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150421110902-255-48074/kisah-tragis-gadis-yang-meninggal-karena-minum-pil-pelangsing


Dalam kasus diatas, seorang mahasiswi meninggal dunia karena mengkonsumsi obat yang didapatkan dari sumber yang tidak jelas (secara online). Kasus seperti ini banyak juga terjadi di masyarakat yang masih berpikir mengkonsumsi “obat” pasti selalu berdampak baik. Nyatanya, Obat memiliki efek samping yang kadangkala muncul secara tunggal (misalnya seperti penggunaan satu jenis obat dalam jangka panjang), secara kombinasi (misalnya muncul hanya bila ada interaksi (pengunaan secara bersamaan) antara obat dengan makanan atau obat dengan obat) dan bisa juga secara individu/genetik (misalnya efek samping akan muncul hanya kepada orang yang memiliki alergi obat tertentu). Jadi penggunaan obat tidak bisa sembarangan.

Golongan obatpun ada bermacam-macam, mulai dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, obat psikotropika dan narkotika. Jadi informasi apa yang masyarakat perlu perhatikan saat membeli obat?
Untuk memilih obat dengan bijak, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menganjurkan cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar dan Kadaluarsa. Empat hal tersebutlah yang perlu diperiksa sebelum anda dan saya membeli obat.
Sumber gambar  :  instagram @bpom_ri
1. Kemasan
Kemasan kalian perhatikan apakah masih layak atau tidak, apakah rusak atau tidak, bila sudah berlubang atau rusak. Obat yang berada didalamnya tentu tidak dapat dijamin karena kualitas obat bukan hanya ditentukan oleh siapa produsen yang memproduksi melainkan sampai ke cara si penjual (warung,toko obat, apotek, dll) melakukan penyimpanan obat dengan benar. Perhatikan kemasan obat sudah luntur, sobek atau pudar. Bila sudah tidak layak, sebaiknya jangan dibeli.

2. Label
Hal yang perlu diperhatikan berikutnya adalah label. Saat membeli obat, setiap obat disertakan label dan atau brosur (asal bukan beli eceran satu obat digunting dari satu strip obat ya). Cek label berisikan :
a. Nama Produk
b. Komposisi atau bahan aktif (indikasi)
c.  Kategori obat
d. Kegunaan obat
e. Peringatan
f. Dosis Obat
g. Cara Penyimpanan
h. Efek samping (bila tidak ada di label, kalian bisa cek di brosur)

3. Izin Edar
Semua obat yang beredar di Indonesia, pasti memiliki izin edar dari BPOM. Obat-obat yang sudah terdaftar pada BPOM akan mencantumkan nomor registrasi. Cek nomor registrasi tersebut secara online di cekbpom.pom.go.id (langsung klik)

4. Kadaluarsa
Ini yang sering tidak diperhatikan bila masyarakat membeli obat di warung atau toko eceran. Beberapa dari kita suka membeli eceran obat seperti satu dua obat saja dari satu strip, sehingga si penjual akan menggunting sebagian dari strip tersebut. Alhasil, kalian tidak akan mendapatkan kadaluwarsanya. Hal ini perlu diperhatikan juga seperti pada saat penyimpanan yang lama di rumah, lalu suatu ketika mau meminum obat itu lagi dan ternyata sudah melewati kadaluwarsanya. Bila sudah kadaluwarsa maka obat tidak boleh dikonsumsi.

penting untuk tahu, bila anda membeli obat di apotek atau instalasi farmasi rumah sakit, anda dapat menanyakan informasi obat lebih lanjut ke apoteker. Tanya Obat, Tanya Apoteker !

Sumber:
1. www.pom.go.id
2. cekbpom.pom.go.id


 

Jumat, 09 Februari 2018



Kecerdasan Emosional (EQ) 
Kecerdasan Emosional merupakan kemampuan untuk merasakan emosi, mengintegrasikan emosi untuk berpikir, memahami dan mengatur emosi untuk meningkatkan pertumbuhan pribadi. Bagi kebanyakan orang untuk mencapai kesuksesan dalam hidup maupun karier, kecerdasan emosional (EQ) lebih penting dari kecerdasan intelektual (IQ). Orang-orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi dapat mengendalikan emosinya, berkomunikasi dengan orang lain secara efektif, memecahkan masalah dan membangun hubungan bahkan dalam situasi yang tegang. Pengendalian emosi ini dapat dilihat dari misalnya dapat berpikir optimis pada saat menghadapi kesulitan besar, memiliki kemampuan persuasive dan juga caranya menyelesaikan masalah. 

Menurut Daniel Goleman (The author of “Emotional Intelligence: Why it can matter more than IQ), kecerdasan emosional merupakan kemampuan yang dapat dipelajari dan dikembangkan. Menurutnya, terdapat empat unsur utama Kecerdasan Emosi : 

1. Kesadaran Diri (Self-Awareness) 
Merupakan kemampuan untuk membaca emosi diri kita sendiri dan kita dapat menyadari dampak emosi tersebut. 

2. Pengendalian Diri (Self-Management) 
Merupakan kemampuan mengendalikan emosi kita dan menahan dorongan yang tiba-tiba (amarah meledak-ledak) dan kemampuan beradaptasi. 

3. Kesadaran Sosial (Social Awareness)
Merupakan kemampuan untuk merasakan, memahami, dan bereaksi terhadap emosi orang lain. 

4. Pengelolaan Hubungan (Relationship Management) 
Merupakan kemampuan untuk mengelola konflik serta menginspirasi, memberikan pengaruh bagi orang lain, dan mengembangkan orang lain. 

Seperti diawal tadi, bahwa EQ dapat dilatih/dikembangkan, cara-cara untuk meningkatkan kecerdasaan emosi seperti hal berikut ini: 

1. Kenali apa yang menjadi pemicu ketegangan (tekanan) pada diri kita. 
Pada saat kita dalam tekanan atau masalah terkadang tekanan itu membuat kita sulit untuk berpikir. Semakin kita tertekan, semakin sulit bagi kita untuk mengatasi penyebab stress tersebut. Ambil waktu sejenak untuk berpikir jernih. Bagian penting yang merupakan proses pembelajaran adalah pada saat kita mencoba untuk melihat apa yang menjadi pemicu stress, memprioritaskan masalah sesuai kepentingan dan melakukan hal yang perlu dilakukan untuk mengatasinya. 

2. Mengerti dan sadar akan diri sendiri 
Jangan banding-bandingin diri kita dengan orang lain! Be yourself  Lakukan segala sesuatu dengan kemampuan kita sebaik mungkin dan tidak perlu merasa bersalah atau iri apabila kta tidak memiliki talenta ataupun kemampuan yang dimiliki oleh orang lain. Mengerti dan sadar akan kemampuan diri sendiri memungkinkan kita untuk dapat mengontrol emosi. 

3. Tetap optimis dan berpikir positif 
Sederhananya, berpikir positif dan bersikap optimis menghasilkan emosi yang baik. 

4. Berpikiran terbuka 
Terbukalah untuk ide-ide baru. Pikiran sempit umumnya mengindikasikan EQ yang rendah. Berusahalah memahami ide-ide dan emosi orang lain. Terbukalah pada ide-ide dan pendapat orang lain sehingga kita dapat mempertimbangkan sesuatu pada sisi objektif. Belajar menyadari bahwa kita tidak selalu benar dan dengan mempertimbangkan pendapat orang lain (walau beda paham) hal itu akan memperluas cara pandang dan cara berpikir kita. 

5. Tingkatkan kemampuan berkomunikasi 
Kemampuan untuk berkomunikasi jelas dapat membantu kita untuk mengelola konflik menjadi lebih baik dan meningkatkan kemampuan kita untuk memengaruhi orang lain dengan lebih efektif. 

“Saya tidak punya tangan dan kaki, tetapi saya punya keteguhan hati dan semangat hidup yang tinggi” – Nick Vujicic
 

Kecerdasan Spiritual (SQ) 
Tingkat kecerdasan spiritual diakui sangat penting untuk kebahagiaan dan ketenangan batin kita. SQ menempatkan kehidupan pribadi kita dalam konteks yang lebih besar. SQ merupakan suatu tingkat kecerdasan dari yang meliputi : 

1. Percaya 
Mempercayai bahwa terdapat hal besar yang memberikan hidup dan mengatur kehidupan kita (Allah) 

2. Kesadaran 
Menyadari bahwa setiap orang, dengan segala kelemahan dan kelebihan, diciptakan untuk sebuah tujuan yang mulia. 

3. Mengampuni 
Tidak menyimpan dendam dan kebencian. Bersedia mengampuni orang yang menyakiti kita. 

4. Mengasihi 
Mengasihi orang lain tanpa syarat dan bersedia untuk menolong orang lain. 

5. Memiliki tujuan hidup 
Memiliki dan menyadari tujuan dalam hidup kita atau saya ubah katanya menjadi sebuah pertanyaan “kenapa kita diizinkan hidup oleh yang Maha Kuasa sampai sekarang?” 

6. Beribadah 
Beribadah itu bukan hanya tentang datang ke “rumah ibadah” untuk beribadah, melainkan bagaimana hidup kita dapat mencerminkan ibadah itu dalam setiap aspek kehidupan kita. 

7. Berserah 
Kemauan untuk berserah bahwa hidup kita dibawah kendali Sang Maha Kuasa. 

Cara untuk mengembangkan SQ dapat dimulai dari hal yang kecil yaitu menghadiri ceramah agama, berdoa secara pribadi dan rutin membaca kitab suci yang dimiliki oleh kepercayaan masing-masing. 

Semua yang saya tulis diatas, dapat teman-teman baca lebih lengkapnya dari referensi buku dibawah ini. 

Reference : RJ Nainggolan dan FB Pranata. Personal Success Cockpit: Maksimalkan 17 Kunci Sukses dalam Diri Anda Sekarang Juga. Jakarta, 2013.

Senin, 22 Januari 2018

Hai, saya Ruben Andrianto ! Saya akan sharing sedikit tentang perkuliahan S1 Farmasi di Universitas Pancasila. Apakah kalian tahu jurusan farmasi? Nah kira-kira apa saja yang dipelajarin di jurusan FARMASI ini? apakah kita cuma belajar membuat obat saja? apakah ngelab itu seru?

Ternyata yang kita pelajari itu bukan soal obat aja loh! ada teknologi, mikrobiologi sampai farmakologi (yang juga dipelajari dokter). Penasaran? Langsung saja yuk baca dan kamu juga bisa komen langsung dibawah ini, untuk menanyakan seputar perkuliahan farmasi. Cekidot! 


Kali ini saya berkesempatan berkolaborasi dengan intipjurusan.com ! Thank You intipjurusan.com

Senin, 25 Desember 2017

Well, penjelasan mengenai kasus DIFTERI sudah banyak sekali, tapi pahamkah kenapa kasus difteri termasuk sebagai KEJADIAN LUAR BIASA?

Setiap wilayah yang melaporkan satu kasus difteri saja, maka dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) di wilayah tersebut. Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek mengatakan KLB Difteri bukanlah wabah, melainkan hanya peringatan. “KLB sebenarnya warning bukan wabah, artinya setelah menemukan kasus difteri harus melakukan tindakan pencegahan dengan imunisasi melalui ORI (Outbreak Response Immunization),” kata Menkes Nila Moeloek. [1]

Kasus Difteri di Indonesia termasuk sebagai Kejadian Luar Biasa karena :
Pada saat ini sudah ada 20 provinsi yang melaporkan kasus. Dari 20 provinsi itu bukan satu provinsi semuanya terkena difteri, tetapi ada beberapa kabupaten/kota yang melaporkan KLB dan di sebagian kabupaten/kota tersebut sudah tertangani dengan baik. Di Jawa Barat terdapat 123 kasus dengan 13 kematian yang tersebar di 18 kabupaten/kota. Di Banten terdapat 63 kasus dengan 9 kematian. Di Jawa timur juga terdapat paling banyak kasus Difteri namun Jatim sudah melaksanakan ORI [2].

Melalui 2 kutipan kalimat diatas, telah terjawab kenapa kasus difteri di Indonesia termasuk sebagai Kejadian Luar Biasa. Lalu sebenarnya Apa itu KLB? Apa itu Difteri? dan Apa itu ORI?

Apa itu Kejadian Luar Biasa  (KLB)?
Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
Untuk mengetahui adanya ancaman KLB, maka dilakukan kajian secara terus menerus dan sistematis terhadap berbagai jenis penyakit berpotensi KLB dengan menggunakan bahan kajian :
  1. Data surveilans epidemiologi penyakit berpotensi KLB 
  2. Kerentanan masyarakat, antara lain status gizi dan imunisasi
  3. Kerentanan lingkungan
  4. Kerentanan pelayanan kesehatan
  5. Ancaman penyebaran penyakit berpotensi KLB dari daerah atau negara lain 
  6. Sumber data lain dalam jejaring surveilans epidemiologi [3].
APA ITU DIFTERI?
Difteri adalah salah satu penyakit yang sangat menular, dapat dicegah dengan imunisasi dan disebabkan oleh bakteri gram positif Corynebacterium diptheriae strain toksin. Penyakit ini ditandai dengan adanya peradangan pada tempat infeksi, terutama pada selaput mukosa faring, laring, tonsil, hidung dan juga pada kulit. Manusia adalah satu-satunya reservoir Corynebacterium diptheriae (istilah mudahnya tempat hidupnya si bakteri ini di manusia) [4].

Sumber gambar : https://dinkes.malangkota.go.id/2017/12/15/siaran-pers-imunisasi-efektif-cegah-difteri


Jumlah Kasus DIFTERI
Kasus Difteri tersebar di seluruh dunia. Pada tahun 2013 dilaporkan sebanyak 775 kasus, selanjutnya jmlah kasus menurun menjadi 430 pada tahun 2014. Kemudian jumlah kasus Difteri di Indonesia sedikit meningkat pada tahun 2016 yaitu 591 kasus [4].

Bagaimana penularannya?
Penularan terjadi secara droplet (percikan ludah) dari batuk, bersin, muntah, melalui alat makan, atau kontak langsung dari lesi di kulit. 

Tanda dan gejala penyakit ini :
  1. infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) bagian atas
  2. nyeri tenggorokan
  3. nyeri menelan
  4. demam tidak tinggi (kurang dari 38,5oC)
  5. adanya putih/keabu-abuan/kehitaman di tonsil, faring, atau laring yang tak mudah lepas, serta berdarah apabila diangkat.
Pada keadaan lebih berat dapat ditandai dengan kesulitan menelan, sesak nafas dan pembengkakan leher yang tampak seperti leher sapi (bullneck). KEMATIAN biasanya terjadi karena sumbatan jalan nafas, kerusakan otot jantung, serta kelainan susunan saraf pusat dan ginjal.

APAKAH OBATNYA (Sediaan Farmasi yang digunakan) ?
Untuk pencegahannya, penyakit Difteri dapat dicegah dengan imunisasi lengkap, dengan jadwal pemberian sesuai usia. Saat ini vaksin untuk imunisasi rutin dan imunisasi lanjutan yang diberikan guna mencegah penyakit Difteri ada 3 macam, yaitu :
  1. DPT-HB-Hib (Vaksin kombinasi mencegah Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B dan Meningitis serta Pneumonia yang disebabkan oleh Haemophylus influenza tipe B.
  2. DT (Vaksin kombinasi Difteri Tetanus)
  3. Td (Vaksin kombinasi Tetanus Difteri)
Imunisasi tersebut diberikan dengan jadwal :
  1. Imunisasi dasar: Bayi usia 2,3 dan 4 bulan diberikan vaksin DPT-HB-Hib dengan interval 1 bulan
  2. Imunisasi lanjutan :
  •  Anak usia 18 bulan diberikan vaksin DPT-HB-Hib 1 kali
  • Anak Sekolah Dasar kelas 1 diberikan vaksin DT pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)
  • Anak Sekolah Dasar kelas 2 dan 5 diberikan vaksin Td pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)
  • Wanita Usia Subur (Temasuk wanita hamil) diberikan vaksin Td.
Jika gejala dan tanda difteri telah jelas, terutama terlihat adanya pseudomembran tenggorok, maka terapi dapat segera dilakukan, tanpa menunggu hasil kultur isolasi kuman. Pemeriksaan penunjang lainnya, seperti rekam arus listrik jantung (EKG), Pemindaian (CT-Scan) leher, rekam listrik otot (EMG), pemeriksaan fungsi ginjal dan biopsi kulit dilakukan jika ditemukan tanda kelainan.

APA ITU ORI?
Outbreak Response Immunization adalah kegiatan imunisasi tambahan yang khusus dilakukan di daerah yang mengalami kejadian luar biasa (KLB), sebanyak 3 putaran dengan jarak antara dosis pertama-kedua adalah 1 bulan dan atanra dosis kedua-ketiga adalah 6 bulan. Langkah ini dilakukan sebagai respon cepat terhadap berkembangnya kasus difteri di Indonesia. Untuk saat ini ORI akan dilakukan di 12 kabupaten/kota [2]

Sumber gambar : https://dinkes.malangkota.go.id

  REFERENCES :
  1. http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=17121200001
  2. http://www.depkes.go.id/article/view/17120700003/meningkatnya-kasus-difteri-3-provinsi-sepakat-lakukan-respon-cepat.html
  3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 949/MENKES/SK/VIII/2004 Tentang Pedoman Penyelanggaraan Sistem Kewasapadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB)
  4. Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Difteri. Kementerian Kesehatan RI. 2017